Manusia adalah makhluk sosial.

Karena beberapa fakta ini:

  1. Kita semua dikendalikan oleh rasa takut kesepian.
  2. Rasa terpenuhi itu seperti batere telepon, harus selalu diisi, seberapa kamu merasa penuh (hati), waktu akan selalu menghabiskan ruang itu perlahan, sampai kamu akan merasa kosong lagi.

 

Kini baru aku mengerti, definisi frasa “Manusia adalah makhluk sosial”.

Teori itu dulu ku dapatkan di bangku SD, pada pelajaran PPKN, dengan perintah soal “Isilah titik titik yang kosong”, soal nya berbunyi “Manusia adalah makhluk _____”, dan aku akan mengisi itu dengan kata “sosial”, tanpa berfikir mengapa teori itu berkata demikian. Begitulah ironi menjadi anak sekolah dasar, mempelajari teori hafalan, mengintepretasikan seadanya, menghafalnya sampai mati, tapi tidak mengerti apa maksud dibaliknya. Sungguh ironi.

Kembali ke “Manusia adalah makhluk sosial”, dideskripsikan pada buku PPKN, bahwa manusia tidak bisa hidup seorang diri. Intrepretasiku sebagai murid sekolah dasar, “oh, iya aku tidak hidup tanpa dilahirkan ayah ibuku.” atau “oh, iya ayah dan ibuku membesarkanku ketika aku masih bayi, ketika aku belum bisa mengurus diriku sendiri”.

Sayang sekali.. aku berharap kalimat “Manusia adalah makhluk sosial”, hanya sebatas pemenuhan kebutuhan fisik, karena aku sadar kelak besar nanti, ketika aku bisa mandi sendiri, bisa mencari uang sendiri, bisa merawat tubuhku sendiri, akhirnya aku tidak perlu terjebak “membutuhkan orang lain”, karena aku sudah melewati pelajaran dimana tidak ada lagi orang yang akan berjuang, dan mencintai diriku dengan tulus, tanpa agenda lain, selain diriku sendiri.

Ternyata, ungkapan “makhluk sosial” itu lebih dalam dari pengertian yang aku tangkap di SD. Sebatang tembakau menyadarkanku di pukul 2.22 AM, 24 Januari 2018.

Ternyata ungkapan itu dalam sekali makna nya, sejak duduk di bangku sekolah dasar, mereka sudah membertahuku tentang teori rasa kesepian yang harus selalu diisi penuh seperti baterai bocor. Harus selalu diisi setiap hari, dan akan selalu berkurang setiap menit.

Ternyata itu adalah akar dari segala permasalahanku. Segala kebimbanganku. Segala pertimbanganku. Sehingga selalu ada masalah di setiap solusi baru. Aku harap “Aku bukan makhluk sosial”, “kehampaan bukanlah kelemahanku”, aku tidak pernah bisa merasa hampa, tidak pernah terganggu dengan kekosongan”,

__

Alangkah semua itu terjadi, sudah ku hidupkan mimpiku untuk menjadi seorang creative director sebuah agensi periklanan yang khusus menangani kampanye sosial, untuk menyuarakan mereka yang bungkam, tak bisa bersua.

Wah, sungguh mulia juga ya mimpiku? Memang itulah, esensi dari hasratku dalam mempertimbangkan apa yang aku ingin lakukan, apa yang ingin aku tuju, kemana hasratku mengarah? Aku harus bisa memberikan perubahan bagi orang banyak.

Aku tau dimana letak impian itu, peta bagaimana menuju kesana. Tapi kakiku kaku, dirantai seribu lidah-lidah api yang berkata, “siapkan kamu merasakan sakitnya menjadi makhluk sosial ketika kamu ingin memberikan dirimu seutuhnya untuk orang banyak?”

Kemudian aku membeku. Diam. Bernafas tapi tak bergerak. Berjalan di tempat. Surviving day by day. I wish i could describe better than this writing.

Oh, manusia. Terkutuklah hidupmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s